Entri Populer

Selasa, 29 November 2011

Golden gate Vs Kutai Kertanegara Brudge


Analisa ini menjadi catatan bahwa peniruan bentuk tanpa mengestimasi kan hal yang menjadi perhatian seperti: jumlah segmen, bentang antara kabel, dudukan sistem penggantung dan posisi penyaluran beban

Senin, 24 Januari 2011

mengubah software ke bentuk portable

[Tutorial] Cara Membuat Portable Software
Author: admin

5 Feb

Aha, sekarang saya kebetulan pingin nulis tutorial, yah, tutorial yang mungkin semua orang sudah tahu, tapi semoga ini bisa menjadi tambahan ilmu bagi yang belum tahu.

Kali ini tentang bagaimana sih membuat software yang instalan agar bisa menjadi portable / bisa dijalankan tanpa diinstal? Nah, yang kita perlukan :

1. Komputer / Laptop (tentu saja buat praktek, ya kan?) -> tnx to Monique, kamu sangat berguna, hehe.
2. Software Thinstall (untuk mengconvert software instalan tadi, bisa didownload di link dibawah)
3. Software yang mau dijadikan portable.



Nah, setelah kamu download program thinstall tadi, mari ikuti caranya, ok. Konsepnya, thinstall tadi merekam keadaan awal komputermu (registry dsb), lalu kamu install program yg akan dibuat portable, lalu thinstall menemukan software apa yg baru saja diinstal dengan men-scan perubahan yang terjadi (ada software yang baru saja diinstall), lalu software tadi dijadikan single-file oleh thinstall. Mudah bukan?

1. Jalankan file Setup_Capture. Ini fungsinya untuk merekam keadaan awal komputer / laptopmu. Tekan Start – Pre install Scan. Kalau sudah selesai jangan buru-buru tekan Next, tapi install dulu program yang akan kamu jadikan portable.
2. Install program / software yang akan kamu buat portable, install aja seperti biasa.
3. Kalau sudah tahap 2 tadi, baru kamu tekan Post Install Scan di thinstall, setelah itu kamu akan melihat data yang baru saja kamu install. Tekan aja Continue, lalu Save Result. Lokasi defaultnya ada di folder “Captures” yang ada di dalam folder Thinstall. Masuk kesana.
4. Didalam folder Captures ada nama software yang baru kamu install, masuk dan tekan “Build.bat”.
5. Thinstall membutuhkan beberapa waktu untuk converting, bersabarlah.
6. Ta daaa… softwaremu sudah jadi portable! Lokasinya ada di dalam folder “bin”, lihat saja.

OK, segitu dulu, mau ada perlu nih, semoga tutorial ini bermanfaat.

Rabu, 19 Januari 2011

Franki Pile

Mini Franki pile is a high quality triangular pre-cast pile, cast in 3m and 6m sections, jointed by means of welding together section end plates. The piles are cast in two sizes, the MF28 with 280mm sides & the MF32 with 320mm sides, and are driven by drop hammers with minimum weights of 1,5t and 2.0t. The nominal safe working loads of these piles are 25t. for the MF28 & 40t. for MF32.

Mini Franki pile adalah pile segitiga precast berkualitas tinggi , dicetak 3m dan 6m per bagian, disambung dengan cara pengelasan pelat bersama-sama bagian akhir. mini pile produksi ke dalam dua ukuran, yang MF28 dengan sisi 280mm & 320mm yang MF32 dan didorong oleh pukulan palu dengan bobot minimal 1,5 t dan 2.0t. Nominal beban kerja yang aman tumpukan ini adalah 25t. untuk MF28 & 40t. untuk MF32.

Franki maintains full quality control over the casting and installation of this pile type by:
1. Designing and manufacturing all driving rigs.
2. Designing, installing, and continuously updating the 'in-house' casting yard facilities, both in Jakarta and Surabaya.
3. Controlling all aspects of the design, manufacture, and installation.

Mini Franki pile offers low cost, economic, and fast piling solution to clients, which is particularly suited to:
• Industrial factories and warehouses.
• Low rise buildings and shop-houses.
• Residential developments.
• Resort style hotels.
• Retaining walls, etc.

Franki mempertahankan kualitas dengan kendali penuh atas pencetakan dan instalasi dari jenis pile ini oleh:
Merancang dan manufaktur semua peralatan hammer.
Merancang, menginstal, dan terus-menerus memperbarui sendiri fasilitas pencetakan, baik di Jakarta dan Surabaya.
Mengontrol semua aspek dari desain, manufaktur, dan instalasi.

Mini Franki pile menawarkan biaya rendah, ekonomi, dan cepat kepada klien, yang sangat cocok untuk:
Industri pabrik dan gudang.
Rendah toko bangunan dan rumah-rumah.
Perkembangan pemukiman.
Bergaya resor hotel.
Dinding penahan, dll












Kamis, 27 Agustus 2009
PONDASI BOR ( FRANKY)
PEKERJAAN TIANG BOR
Komentar http://zonabarangsuper.blogspot.com

Tentang perencanaan pondasi tiang bor, saya yakin banyak yang tahu. Khususnya bagi para sarjana teknik sipil, karena telah diberikan pada mata kuliah teknik pondasi. Selain itu, cukup banyak buku-buku yang menggambarkan secara jelas illustrasi tentang pondasi tersebut.

Tetapi jika dikaitkan dengan pelaksanaan sesungguhnya di lapangan, saya juga yakin, nggak setiap yang punya gelar sarjana teknik sipil berkesempatan mengetahuinya secara detail. Bagi yang tahu, biasanya itu karena pernah terjun langsung di proyek dan melihat dengan mata kepala sendiri. Kenapa ? Karena literatur berkaitan dengan hal tersebut, tidak gampang diperoleh ! Apalagi yang berbahasa Indonesia. Kenapa itu bisa terjadi, padahal ahli-ahli pelaksana pondasi tiang bor di Indonesia sudah banyak ?

Kenapa ya ?

Ya maklum, kita mayoritas khan budaya lesan. Jadi menceritakannya secara lesan sudah cukup, ngapain harus dituliskan. Selain ngabisin waktu, juga nggak ada faedahnya.

Benarkah demikian ?



, tentu saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Menulis juga berarti merenung kembali apa yang diterima hari ini. Bisa-bisa ‘itu’ dapat menjadi suatu kompetensi baru untuk modal dikembangkan lebih lanjut. Dengan menuliskan pula, kita bisa mendapat koreksi dari orang lain, apakah yang kita terima (pahami) sudah benar atau belum. Jadi ada feed-back gitu. Selain itu, bagi pembaca yang belum tahu, tulisan tersebut dapat menjadi pencerahan. Jadi usaha menulis dapat menjadi bantuan yang berharga untuk yang lain (sesamanya).

Sudah-sudah pak. Jangan cerita tentang tulis-menulis. Mana pondasi tiang bornya ?

Baiklah. Pagi tadi saya baru menguji mahasiswa peserta mata kuliah “Kerja Praktek”. Salah satu kelompok telah menceritakan dengan baik hasil kerja-prakteknya yaitu pelaksanaan pondasi tiang bor dan uji beban dari salah satu proyek di daerah Jawa Barat. Cukup menarik untuk diceritakan disini.

Lho ternyata bukan pengalaman Bapak sendiri tho. Cuma hasil kerja praktek mahasiswanya aja. Emangnya menarik pak ?

Eh, jangan ‘cuma’. Meskipun ini hasil mahasiswa, tapi ini khan mahasiswa UPH, hasil bimbingan saya dalam mengerjakannya. Jadi ini juga dapat menjadi feed-back gimana hasil bimbingannya gitu. “Pohon itu khan dilihat dari buahnya !“

Jika dosennya aja, berdasarkan data-data hasil pengumpulan mahasiswa-nya aja bisa bercerita banyak tentang materi yang dilihat selama 15 menit presentasi kerja praktek. Apalagi mahasiswanya sendiri yang telah minimal 130 jam menggeluti di proyek tersebut.

Kerja praktek adalah sarana mahasiswa bersangkutan menangkap fenomena sehari-hari “dunia dimana dia akan bekerja nanti“. Jika pada waktu yang pendek tersebut, dia bisa ngeh (mengerti), dan paham menceritakan pengalamannya. Maka diyakini nanti setelah lulus, mahasiswa yang bersangkutan akan dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan tempat kerjanya. Jadi intinya hasil didikan saya nantinya bisa link-match dengan dunia kerja.

Jadi mata kuliah kerja praktek yang saya bimbing ini tidak sekedar mata kuliah biasa, itu dapat menjadi sarana mahasiswa untuk aktualisasi diri dengan menuliskan apa-apa yang dilihat selama kerja praktek tersebut. Terus terang sebagai guru, saya sangat bangga jika mahasiswa-mahasiswa yang saya bimbing, bisa dengan mantap menjelaskan bahkan menjawab dengan tuntas setiap pertanyaan yang berkaitan dengan proyek kerja prakteknya. Itu semua dapat menjadi sarana mengevaluasi mahasiswa tentang kesiapan mereka menjadi engineer. Kalau hanya sekedar melihat hasil ujian tertulis-nya saja, saya nggak puas. Engineer khan bukan sekedar saintis, ada seninya juga. Jadi menurut saya, hasil ujian tertulis menunjukkan segi saintis-nya, sedang presentasi oral di depan kelas tentang fakta yang telah mereka terima via indera-nya merupakan petunjuk bagi segi ’seni’-nya tersebut.

Mahasiswa saya dalam kerja prakteknya tadi berkesempatan melihat dari awal pelaksanaan pondasi tiang bor dan sampai pengujiannya juga.

Lho, koq hanya pondasi. Katanya proyek pak ? Kalau pondasi tiang itu khan baru sebagian kecil dari proyek. Kayaknya kerja praktek mahasiswa Bapak kurang hebat. Kalau saya jadi dosen, maka saya minta mereka (mahasiswa) untuk kerja praktek pada proyek yang besar, misalnya bangunan tinggi, kalau bisa sih di atas 100 lantai. Itu baru yahud ! Gimana pak ?

O gitu ya.

Saya lain ! Terus terang, setiap mahasiswa yang kerja praktek pada saat awalnya akan bertanya kepada saya. Pak, proyek ini boleh nggak ? Kalau yang gini boleh ? Kalau yang itu, gimana ?

Pada prinsipnya saya tidak memberi batasan, ini boleh , ini tidak, dan sebagainya. Saya memberi kebebasan kepada mereka. Proyek apa saja prinsipnya boleh aja, hanya saja saya akan bertanya:” kenapa kamu memilih proyek seperti itu, apa sih menurut kamu keunggulannya, atau adakah sesuatu yang menarik“. Jika mahasiswa yang bersangkutan langsung bisa bersemangat menceritakan apa-apa yang dianggap menarik pada proyek tersebut maka pada prinsipnya saya akan mendukung.

Jadi dari artikel ini saya juga akan menunjukkan bahwa meskipun itu hanya pelaksanaan pondasi tiang bor, tetapi kalau dapat melihat dari sudut pandang yang tepat maka itupun merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Ingat bahwa ada engineer yang dapat hidup dari hanya bekerja sebagai pembuat tiang bor saja. Jadi menguasai kompetensi seperti itu saja merupakan bekal yang berharga.

Ok. Setuju ? Jadi saya bisa melanjutkan cerita tentang pelaksanaan pondasi tiang bor !

Ok pak. Saya memang nunggu Bapak bercerita, yang menarik ya Pak ! :mrgreen:

Pekerjaan pemetaan pada lokasi sebelum alat-alat proyek didirikan.


Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu proyek. Oleh karena itu yang penting adalah dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Ini adalah gunanya ilmu ukur tanah. Umumnya yang ngerjain adalah alumni stm geodesi. Proses ini sebaiknya sebelum alat-alat proyek masuk, karena kalau sesudahnya wah susah itu untuk ‘nembak’-nya. Dari pemetaan ini maka dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Bayangin jika salah kerja di tempat orang lain. Bisa kacau itu.



Excavator mempersiapkan areal proyek agar alat-alat berat yang lain bisa masuk.


Pekerjaan pondasi tiang bor memerlukan alat-alat berat pada proyek tersebut. Disebut alat-alat berat memang karena bobotnya itu yang berat, oleh karena itu manajer proyek harus dapat memastikan perkerjaan persiapaan apa yang diperlukan agar alat yang berat tersebut dapat masuk ke areal dengan baik. Jika tidak disiapkan dengan baik, bisa saja alat berat tersebut tercebur kesungai misalnya.

Bahkan bila perlu, dipasang juga pelat-pelat baja.

Pelat baja tersebut dimaksudkan agar alat-alat berat tidak ambles jika kekuatan tanahnya diragukan. Jika sampai ambles, untuk ‘ngangkat’ itu saja biayanya lebih besar dibanding biaya yang diperlukan untuk mengadakan pelat-pelat tersebut. Perlu tidaknya pelat-pelat tersebut tentu didasarkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, nggak ada itu di buku teks. Itu yang saya maksud dengan ’seni’ agar pekerjaan lancar. Coba, di buku mana itu ada.

Pekerjaan penulangan pondasi tiang bor.

Paralel dengan pekerjaan persiapan, maka pembuatan penulangan tiang bor telah dapat dilakukan. Ini penting, karena jangan sampai sudah dibor, eh ternyata tulangannya belum siap. Jika tertunda lama, tanah pada lubang bor bisa rusak (mungkin karena hujan atau lainnya). Bisa-bisa perlu dilakukan pengerjaan bor lagi. Pemilihan tempat untuk merakit tulangan juga penting, tidak boleh terlalu jauh, masih terjangkau oleh alat-alat berat tetapi tidak boleh sampai mengganggu manuver alat-alat berat itu sendiri. Gimana hayo.

Lho koq, tulangannya gitu sih pak ?

Lha iya. Emangnya kamu belum tahu gambar detailnya. Baik ini gambar detail strukturnya, biasanya digambarkan seperti ini. Ini fondasi franki yang terkenal itu, yang dibagian bawahnya membesar. Itu khas-nya Franky.



Ada yang lebih gede lagi nggak pak, hanya diameter 800 mm ?

Ada, sampai diameter 1 m lebih, tapi prinsipnya hampir sama koq. O ya, kedalaman pondasi adalah sampai tanah keras (SPT 50) dalam hal ini adalah 17-18 m (lokasi di Bogor).

Jika alat-alat berat sudah siap, juga tulangan-tulangannya, serta pihak ready mix concrete-nya sudah siap, maka dimulailah proses pengeboran. Skema alat-alat bornya adalah.

Gambar diatas bisa menggambarkan secara skematik alat-alat yang digunakan untuk mengebor. Dalam prakteknya, mesin bor-nya terpisah sehingga perlu crane atau excavator tersendiri seperti ini.

Perhatikan mesin bor warna kuning belum dipasangkan dengan mata bornya yang dibawah itu. Saat ini difoto, alat bor sedang mempersiapkan diri untuk memulai.

Kecuali alat bor dengan crane terpisah, pada proyek tersebut juga dijumpai alat bor yang terintegrasi dan sangat mobile. Mungkin ini yang lebih modern, tetapi kelihatannya jangkauan kedalamannya lebih terbatas dibanding yang sistem terpisah. Mungkin juga, karena diproyek tersebut ada beberap ukuran diameter tiang bor yang dipakai.

Jadi pada gambar-gambar nanti, fotonya gabungan dari dua alat tersebut. Jangan bingung ya.
Pengeboran

Ini merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok. Kalau asal ngebor, bisa-bisa mata bor-nya stack di bawah. Biaya itu. Ini contoh mesin bor dan auger dengan berbagai ukuran siap ngebor (bukan inul lho).

Setelah mencapai suatu kedalaman yang ‘mencukupi’ untuk menghindari tanah di tepi lubang berguguran maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor.

Perhatikan mesin bor-nya beda, tetapi pada prinsipnya cara pemasangan casing sama: diangkat dan dimasukkan pada lubang bor. Tentu saja kedalaman lubang belum sampai bawah, secukupnya. Kalau nunggu sampai kebawah, maka bisa-bisa tanah berguguran semua. Lubang tertutup lagi. Jadi pemasangan casing penting.

Setelah casing terpasang, maka pengeboran dapat dilanjutkan. Gambar di atas, mata auger sudah diganti dng Cleaning Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur di dasar lubang.

Jika pekerjaan pengeboran dan pembersihan tanah hasil pengeboran dan akhirnya sudah menjadi kondisi tanah keras. Maka untuk sistem pondasi Franky Pile maka bagian bawah pondasi yang bekerja dengan mekanisme bearing dapat dilakukan pembesaran. Untuk itu dipakai mata bor khusus, Belling Tools sebagai berikut.

Belling Tools

Cleaning Bucket dan Belling Tools

Akhirnya setelah beberapa lama dan diperkirakan sudah mencapai kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi, yaitu melalui pemeriksaan manual.

Check kedalaman lubang bor

Perlu juga diperhatikan bahwa tanah hasil pemboran perlu juga dichek dengan data hasil penyelidikan terdahulu. Apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang dibor.

Apabila kedalaman dan juga lubang bor telah ’siap’, maka selanjutnya adalah penempatan tulangan rebar.

Jika perlu, mungkin karena terlalu dalam maka penulangan harus disambung di lapangan. Ngangkatnya bertahap.


Ini kondisi lubang tiang bor yang siap di cor.

Pengecoran beton :

Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan.

Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat.

Adanya air pada lobang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.

Cukup panjang khan. Inilah yang disebut pipa tremi. Foto ini cukup menarik karena bisa mengambil gambar mulai dari ujung bawah sampai ujung atas. Ujung di bagian bawah agak khusus lho, nggak berlubang biasa tetapi ada detail khusus sehingga lumpur tidak masuk kedalam tetapi beton di dalam pipa bisa mendorong keluar. Mau tahu detailnya ?



Yang teronggok di bawah adalah corong beton yang akan dipasang di ujung atas pipa tremi, tempat memasukkan beton segar.

Yang di bawah ini pekerjaan pengecoran pondasi tiang bor di bagian lain, terlihat mesin bor (warna kuning) yang difungsikan crane-nya (mata bor nya nggak dipasang, mesin bor non-aktif).

Posisi sama seperti yang diatas, yaitu pipa tremi siap dimasukkan dalam lobang bor.


Pipa tremi sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor.
Perhatikan ujung atas yang ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh. Corong beton dipasang. Pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap. Truk readymix siap mendekat.

Pada tahap pengecoran pertama kali, truk readymixed dapat menuangkan langsung ke corong pipa tremi seperti kasus di atas. Pada tahap ini, mulailah pengalaman seorang supervisor menentukan.
Kenapa ?

Karena pipa tremi tadi perlu dicabut lagi. Jadi kalau beton yang dituang terlalu banyak maka jelas mencabut pipa yang tertanam menjadi susah. Sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremi, sedangkan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi, tercampur dengan tanah. Padahal proses itu semua kejadiannya di bawah, di dalam lobang, nggak kelihatan sama sekali. Jadi pengalaman supervisi atau operator yang mengangkat pipa tadi memegang peran sangat penting. Sarjana baru lulus pasti kesulitan mengerjakan hal tersebut. Pada kasus ini, tidak hanya teori, lha itu seninya di lapangan. Perlu feeling yang tepat. Ingat kalau salah, pondasi gagal, cost-nya besar lho.

Jangan sepelekan aba-aba seperti di atas. Belum tentu seorang sarjana teknik sipil yang baru lulus dengan IP 4.0 bisa mengangkat tangan ke atas secara tepat. Karena untuk itu perlu pengalaman. Jadi menjadi seorang engineer tidak cukup hanya ijazah sekolah formil, perlu yang lain yaitu pengalaman yang membentuk mental engineer. Jadi jangan sekedar kerja, misalnya jualan MLM gitu, mana bisa jadi engineer yang baik, meskipun duitnya gede (katanya).

Jika beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremi harus mulai ditarik ke atas. Perhatikan bagian pipa tremi yang basah dan kering. Untuk kasus ini karena pengecoran beton masih diteruskan maka diperlukan bucket karena beton tidak bisa langsung dituang ke corong pipa tremi tersebut.



Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur sehingga perlu dewatering segala. Gambar foto di atas menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi.

Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang continuous, bayangkan saja bila ada keterlambatan beberapa jam. Jika sampai terjadi setting maka pipa treminya bisa tertanam lho dibawah dan nggak bisa dicabut. Sedangkan kalau keburu di cabut maka tiang beton bisa tidak continue. Jadi bagian logistik / pengadaan beton harus memperhatikan itu.

Jika pengerjaan pengecoran dapat berlangsung dengan baik, maka pada akhirnya beton dapat muncul dari kedalaman lobang. Jadi pemasangan tremi mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan maka pipa tremi tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Jadi kondisi tersebut fungsinya sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur.

Sampai tahap ini pekerjaan tiang bor selesai. Sebenarnya ada hal lain yang mahasiswa saya bisa laporkan yaitu pelaksanaan pengujian beban atau Loading Test 150% kapasitas. Wah menarik lho. Tapi nanti dulu ya pada artikel lain.

O ya ada pertanyaan, casingnya dicabut nggak ya. Mestinya iya ya, khan mahal.
Acknowledgment :


Urutan kerja pekerjaan tiang pancang
1. Pekerjaan persiapan awal meliputi :
 Pengadaan tiang pancang
 Pengukuran lokasi / posisi tiang pancang
- Memeriksa Bench Mark yang diberikan
- Menentukan Grid line serta pemberian label grid
 Set up equipment
 Pengiriman dan Penyimpanan Tiang Pancang
 Pengaturan lokasi material pancang

2. Pekerjaan persiapan pemancangan :
 Buat skala pada tiang pancang menurut kedalamannya
 Check posisi titik / koordinat pancang
 Pengangkatan tiang pancang
- Pengangkatan pile dilakukan dengan menggunakan sling baja yang diikatkan ke pile di dua lokasi yang berjarak 0.6 panjang pile.
- Perlu dibuat penandaan oleh fabrikan untuk menentukan dimana lokasi pengangkatan yang diizinkan
 Tiang pancang berada di dalam topi pancang
 Check ketegakkan tiang pancang terhadap 2 sumbu yang saling tegak lurus
 Pembuatan Cushion, berfungsi untuk menjaga agar kepala tiang tidak rusak akibat pemukulan, bertempat di antara anvil dan kepala tiang

3. Pekerjaan Pemancangan :
 Tiang pancang ini digunakan hanya untuk mendukung bangunan/konstruksi ringan dengan kedalaman maksimal 12 m, penggunaan tiang pancang mini lebih dalam dari 12 m sebaiknya tidak dilakukan dengan alasan menghindari terjadinya bahaya tekukan
 Selama pemancangan pastikan posisi tiang pancang tetap tegak lurus terhadap 2 sumbu horizontal yang saling tegak lurus
 Catat jumlah pukulan hammer dari saat mulai sampai dengan berakhirnya pemancangan
 Penghentian pemancangan hanya diijinkan setelah mendapat ijin dari pengawas
 Membuat pile record + data hasil kalendering
 Membuat sambungan jika diperlukan

4. Catatan :
 Bila diragukan tiang pancang mini pile belum menuju tanah keras walaupun seluruh tiang sudah tertanam diusulkan adanya penambahan jumlah tiang pancang mini pile sebagai solusinya

Alat-alat yang digunakan :
1. Lier pancang : 1 unit
2. Tiang leader : 1 unit
3. Drop hammer : 1 unit
4. Mesin las : 2 unit

a. Pemotongan Tiang Pancang Beton Bulat Pretensioned, dia 50 cm
1) Untuk pemotongan tiang pancang digunakan tenaga manual, dan hasil potongan dikumpulkan serta dibuang ke area yang telah ditentukan.
2) Untuk ikatan antara Tiang pancang dengan Lantai Konstruksi ditambahkan besi pada tiang pancang.

b. Pelaksanaan test yang dilakukan adalah:
- PDA Test
- Loading Test
- Tensioned Load Test

Minggu, 16 Januari 2011

teknik drainase pasang surut

PENANGANAN BERKELANJUTAN BANJIR DAN KEKERINGAN DI JAKARTA
Dr. Ir. Sri Legowo Wignyo Darsono
I. PENDAHULUAN
Wilayah (lahan dan air) merupakan pendukung utama didalam kelangsungan dan perkembangan kehidupan manusia untuk menuju tingkat kesejahteraan dan kemakmuran sempurna / hakiki.
Pemberdayagunaan lahan dan air pada suatu wilayah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang seperti permukiman, fasilitas umum, budidaya / pertanian (pangan/sandang) telah mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan, melebihi daya dukung wilayahnya.
Akibat eksploitasi wilayah yang berlebih menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa, baik fisik: lahan (hutan, permukaan tanah, sungai, danau, rawa) maupun air (permukaan air tanah, mata air, kualitas, kuantitas, distribusi). Upaya pemulihan wilayah dari kerusakan lingkungan dari dan oleh manusia yang bermukim di dalamnya semakin tidak berasa (tidak sebanding) manakala jumlah penduduk semakin meningkat secara ganda (pertumbuhan dan urbanisasi) yang meliputi seluruh wilayah tata lahan dan air (daerah aliran sungai / wilayah sungai) dari hulu, tengah dan hilir.
Terbentuknya tata sistem lahan dan air secara alamiah dan harmonis yaitu suatu daerah aliran sungai (DAS) dengan gunung dan hutan menjulang tinggi yang hijau, serta dataran dan lembah yang dihiasi atau diukir alur anak sungai dan sungai (menampung, membawa, mendistribusikan, mengalir) dengan ukuran yang optimal (pas) merupakan hukum alam (Sunatullah) yang harus dihormati dan dipahami bagi manusia yang memanfaatkan air untuk kelangsungan kehidupan dan peningkatan kesejahteraan / kemakmuran manusia sebagai khalifah di bumi (keutamaan tugas dari Allah) wajib memelihara bumi dari segala kerusakan termasuk didalamnya.
Tata lahan dan air yang (alami dan harmonis) sebelumnya. Wajib dipelihara oleh masyarakat sesuai UU SDA No. 7 tahun 2004, yaitu Konservasi, menjaga kelangsungan keberadaan air pada lahan yang memenuhi unsur: tepat waktu, kuantiĆ­tas dan kualitas, sehingga tidak menimbulkan banjir dan kekeringan didalam DAS itu sendiri.
Akan tetapi pengelolaan SDA (konservasi, pendayagunaan, pengendalian) yang telah kita lakukan di DAS-DAS sekarang ini belum berhasil optimal bahkan menuai bencana banjir dan kekeringan yang rutin, yang membawa kerugian harta benda dan jiwa yang tak bernilai harganya, seperti banjir dan kekeringan di Jakarta dan ditempat lain.
II. GEOGRAFIS JAKARTA
Secara geografis Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara kita terletak dimuara banyak sungai (13 sungai) diantaranya (Sungai Mokervart, Angke, Pasanggrahan, Ciliwung, Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Cipinang, Sunter, Buaran, Cakung) yang merupakan rawa-rawa (Rawa Badak, Buaya, Jati, Mangun dll). Dataran rendah dengan elevasi -1,0 sampai dengan + 3,0, Jakarta Pusat sampai Jakarta Utara merupakan tepat genangan air (retensi basin), karena air tidak bisa keluar secara gravitasi tertahan air pasang.
DAS ke 13 sungai diatas membentuk wilayah sungai (gabungan sungai) yang berbentuk kipas kerucut (gunung) dengan mahkota puncak Sub DAS Ciliwung (± 150 km2). Bentuk wilayah sungai demikian sebenarnya mengindikasikan secara alamiah Jakarta seharusnya tidak banjir, karena air hujan dari hulu akan tersebar luas (melebar) ke hilir / muara. Hal tersebut menjadikan penetapan pusat kegiatan kerajaan Jayakarta yang selanjutnya berubah Batavia (Jaman Belanda) dan terakhir menjadi Jakarta.
Perkembangan terkini (singkatnya) Jakarta tidak mempunyai muara dan rawa yang memadai. Rawa terakhir menjadi pusat pemukiman / bisnis seperti Pantai Indah Kapuk dan Kelapa Gading, Jakarta juga tidak mempunyai bantaran sungai, bahkan alur utama menyempit diserbu penduduk Jakarta yang hampir 10 juta jiwa. Jakarta tidak mempunyai sarana prasarana drainase yang cukup (poorly drainage).
Dibagian tengah DAS sungai-sungai yang bermuara di Jakarta adalah kota Depok Kabupaten / Kota Bogor, juga padat penduduk dan pusat pertumbuhan, pusat pemukiman di Cibubur, Sawangan, Bekasi dan lain-lain, yang menyebabkan situ dan lembah serta kawasan terbuka / lindung (daerah resapan air) hilang / habis akibat beralih fungsi menjadi lahan kedap.
Pada bagian hulu DAS Ciliwung yang mencakup wilayah Bogor, Puncak, Cianjur (Bopunjur) akhir-akhir ini menjadi pusat Villa (bertumbuh 1000 Villa sejak tahun 2000), serta pemukiman umum, yang menjadikan DAS Ciliwung tidak lagi mempunyai daerah tangkapan air atau resapan, sebagai pengendali bahaya banjir dan kekeringan bagi Jakarta.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan wilayah Jakarta secara geografis sebenarnya sangat menguntungkan / strategis (right place) dekat air (muara / laut) sebagai pusat kegiatan (permukiman, Pemerintahan, Bisnis) dan akses keluar / kedalam, akan tetapi akibat pengunaan lahan (DAS dan wilayah Jakarta) yang tidak terkendali, Jakarta tidak lagi mempunyai daya dukung dalam pengendalian banjir baik banjir lokal maupun kiriman, sementara itu karena air hujan terbuang percuma sebagai banjir, Jakarta terancam kekurangan pasokan air tanah.
III. BANJIR JAKARTA
Sekurang-kurangnya dalam 15 tahun terakhir (1993 – 2007) ada 4 kejadian banjir besar di Jakarta.
1. Tanggal 9 dan 10 Januari 1993, banjir Kali Angke, menyebabkan jalan Tol Gengkareng dan kawasan permukiman Jakarta Utara / Barat (Pantai Indah Kapuk) tengelam setinggi 50 cm. Hujan yang terjadi tercatat ± 75 mm (hujan rencana Jakarta periode ulang 5 tahun ± 150 mm)
2. Bulan Pebruari 1996 Kali Ciliwung banjir, mengenangi Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, Kebun Waru dan Bukit Duri dengan tinggi genangan 5–6 m, luas genangan 5200 ha, hujan yang terjadi ± 231 mm selama 5 jam.
3. Tanggal 26 januari hingga 1 Pebruai 2002 sungai Ciliwung dan lainnya meluap, menggenangi wilayah Jakarta dan sekitarnya; banjir akibat hujan selama 7 hari berturut-turut berjumlah ± 798 mm, yang mengenangi Polder Sunter Timur, Setiabudi Timur, Rawa Kelapa, Tomang barat, IKPN, Bintaro, Polder Pluit, Cikini, Kwitang, Gambir / Monas, Istana Negara, Jln. Thamrin. Tinggi genangan sekitar 0,5 – 2,0 m.
4. Tanggal 4 – 14 Pebruari 2007 yang lalu terjadi banjir yang lebih besar akibat hujan sebesar ± 230 mm berturut-turut 3 hari hampir 70 % kawasan Jakarta (total DKI ± 1400 km2) tengelam 0,30 – 6 m kerugian mencapai 8,8 trilyun rupiah (infrastruktur pemerintah 5,2 trilyun rupiah dan 3,6 trilyun rupiah pendapatan hilang) dan 48 jiwa melayang. Hampir 1 milyar m3 air merendam wilayah Jakarta atau setara debit ± 11575 m3/det. Debit tersebut sumbangan dari seluruh sungai yang bermuara di Jakarta.
Dari kejadian banjir besar di Jakarta sejak 1993 sampai dengan 2007, bahwa banjir Jakarta mempunyai karakteristik pengulangan 4–5 tahun dan cenderung lebih cepat lagi dan genangan semakin luas dan dalam. Kejadian banjir Jakarta sebabnya dapat diramalkan (predictible).
Banjir yang selalu terjadi di Jakarta merupakan ancaman yang serius bahkan cenderung menjadi rutin (latent). Hal tersebut harusnya menjadikan pemikiran seluruh komponen bangsa, karena Jakarta merupakan Ibu Kota Negara, tempat tumpuan masyarakat mencari kerja juga merupakan jendela mata dunia.
IV. PENANGANAN / PENGENDALIAN BANJIR
Penanganan banjir adalah upaya untuk menghilangkan atau mencegah tidak terjadi banjir sama sekali, merupakan upaya yang menghasilkan penyelesaian paripurna / tuntas masalah banjir. Sedangkan pengendalian banjir adalah upaya mengurangi banjir sebagian yang tidak mengakibatkan bahaya atau kerugian berarti.
IV.1. Penanganan Berkelanjutan Banjir dan Kekeringan di Jakarta
Penanganan Banjir Paripurna Jakarta Pendekatan penanganan banjir hampir tidak mungkin untuk Jakarta karena infrastruktur drainase alami : bantaran, alur sungai, muara / outlet sudah sangat rusak. Konsep penanganan banjir Jakarta secara paripurna pernah disampaikan oleh bapak Prof. Dr. Ir. Sugandar, M.Sc. dan pernah di diskusikan secara intensif dengan pihak Departemen Pekerjaan Umum dan Pemda DKI. Konsep yang diberi nama ”Smart Consept” yang intinya membuat ”lidah Laut”. Lidah laut adalah bagian laut yang menjorok / menjilat ke daratan. Lidah laut ini sebenarnya adalah muara raksasa yang merupakan integral muara-muara alami sungai yang memantus kawasan Jakarta.
Jika dihitung lebar dan luasnya lidah laut yang diperlukan, hampir separuh wilayah Jakarta, menjadi lidah laut, atau menjilat sampai ke Monas. Memang Monas ke utara dulu merupakan muara sungai-sungai purba Jakarta.
Konsep pintar dari Prof. Sugandar tersebut sekarang menjadi arsip (dokumen) penting yang sewaktu-waktu bisa sebagai senjata pamungkas, jika segala cara / upaya tidak mampu menangani banjir Jakarta. Yang terpenting kita tidak putus asa (hopless), tetapi tetap optimis, sekalipun kerja kita seperti menggantang asap (jobless). Penyebab utama kurang berhasil penanganan banjir diantaranya kurang integrated, komprehensif, koordinatif, partisipatif stakeholders dan sustainable
IV.2. Pengendalian Banjir Jakarta
Banjir adalah terjadinya luapan air keluar alur sungai. Pengendalian banjir merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengupayakan agar tidak terjadi banjir. Bertolak dari pengertian tersebut, maka filosofi kegiatan pengendalian banjir meliputi dua kegiatan pokok yaitu :
• Mengurangi volume air yang lewat
• Memperbesar daya tampung (kapasitas) alur sungai.
Untuk daerah dataran seperti kota-kota besar yang terletak didaerah hilir/pantai, penyebab utama terjadinya banjir dan genangan ditimbulkan oleh banjir kiriman dari hulu dan banjir lokal akibat air hujan yang tidak dapat dipatus atau dibuang ke sungai.
Dengan demikian, untuk daerah-daerah hilir kegiatan pengendalian banjir dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu:
• Mengurangi volume air banjir kiriman hulu
• Memperbesar daya tampung kapasitas alur sungai
• Menurunkan potensi terjadinya banjir lokal
Dengan demikian secara teknis kegiatan pengendali banjir adalah sebagai berikut:
• Perbaikan alur sungai, tanggul atau tembok banjir untuk menampung banjir di dalam alur
• Saluran pengelak banjir untuk membelokan sebagian atau eluruh air dari aluir alami sungai
• Waduk penampung di hulu atau kolam retensi untuk menurunkan puncak banjir
• Sistem drainase pembuang untuk mengalirkan air banjir dari daerah yang rawan banjir.
• Sistem polder untuk menampung air dari saluran drainase yang tidak dapat mengalirkan airnya secara gravitasi ke sungai yang selanjutnya dipompa ke laut
IV.2.1. Tanggul Dan Dinding Penahan Banjir.
Tanggul dan tembok banjir adalah penghalang sepanjang alur sungai yang direncanakan untuk menahan air banjir dalam alur sungai yang ada dan menghindari tumpahan keatas tanah rendah yang berdekatan. Tanggul dan tembok banjir berfungsi untuk melindungi fasilitas-fasilitas pada dataran banjir termasuk pemukiman, pengembangan industri dan pertanian. Tanggul biasanya dibangun dari tanah dan tembok banjir dibuat dari beton, pasangan batu dan baja. Tanggul dan tembok banjir sering merupakan bangunan pengendali banjir yang paling ekonomis, jika tempat dataran banjir cukup jauh dari alur sungai, memungkinkan regim sungai akan mendekati alami. Tanggul atau tembok banjir menjadi cara pengendalian banjir yang efektif dengan bangunan yang memadai dalam keadaan berikut :
• Pada sungai yang besar dimana terdapat dataran banjir yang lebar dengan sedikit atau tanpa permukiman atau pengembangan industri di dekat sungai
• Pada suatu daerah atau wilayah perlu perlindungan lokal.
• Pada daerah pantai dimana banjir dipengaruhi air pasang

Sketsa Dinding Penahan Banjir

Skema Tanggul pada Lokasi Meander

Sketsa Pengelolaan Sungai dengan Tanggul
IV.2.2. Perbaikan dan Pengaturan Alur Sungai
Pekerjaan perbaikan dan pengatuaran alur sungai dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas angkut dari alur alami, atau memungkinkan elevasi air banjir lebih rendah daripada yang terjadi alami. Pekerjaan perbaikan dan pengaturan alur sungai menyangkut hal berikut ini :
• Pendalaman dan atau pelebaran alur (termasuk pengerukan)
• Mengurangi kekasaran alur.
• dekan alur (sodetan) Pelurusan atau pemen
• Mengatur pola aliran
• Pengendalian erosi
• Pengerukan
• Secara skematis Pekerjaan perbaikan dan pengaturan alur sungai digambarkan sebagai berikut:

Sketsa Perbaikan Alur Sungai
IV.2.3. Pengelak Banjir
Pengelak banjir adalah pembuatan suatu saluran yang berfungi untuk membelokan sebagian atau keseluruhan aliran sungai (membagi debit) untuk dialirkan dalam suatu saluran yang menjauhi kota. Pengalihan aliran ini dapat dikembalikan lagi di sungai induk di hilir kota, dialirkan langsung ke laut atau dipindahkan kealiran sungai tetangganya yang masih dapat menampung. Bangunan ini sering berpintu dan ditempatkan sebagai berikut :
• Jika dasar sungai alam lebih rendah atau pada elevasi yang sama dengan dasar saluran pengelak, bangunan pengendali berpintu sering ditempatkan pada alur sungai alami dihilir pintu masuk saluran. Dengan demikian air bisa dibelokan ke alur alami selama periode aliran rendah untuk memenuhi kebutuhan air di bagian hilir.
• Jika alur pengelak pada elevasi yang lebih rendah dari dasar sungai alami bangunan berpintu (misalnya bendung pelimpah) kadang-kadang ditempatkan pada pintu masuk saluran, dan direncanakan untuk membelokan dari sistem sungai sejumlah debit yang bisa dikontrol.

Sketsa Saluran Pengelak Banjir
IV.2.4 Waduk Pengendali Banjir (Flood Control Reservoir)
Waduk pengendali banjir adalah bangunan yang berfungsi menahan semua atau sebagian air banjir dalam tampunganya dan mengalirkan sesuai dengan kapasitas sungai. Sistem spillway umumnya dibangun sebagai bagian dari waduk, dimana berfungsi untuk melepaskan bagian banjir yang tidak bisa ditampung. Tampungan puncak banjir dalam waduk akan mengurangi debit dan elevasi muka air banjir dibagian hilir waduk.
Tingkat perlindungan banjir dari waduk ini tergantung dari hubungan beberapa faktor yaitu karakteristik puncak banjir, kapasitas tampungan dan operasi bangunan outlet spillway. Waduk yang lebih besar mampu untuk menampung seluruh volume banjir, yang dapat disimpan untuk kegunaan di masa yang akan datang secara terkendali. Waduk yang lebih kecil hanya bisa menampung sebagian volume banjir, tetapi dapat meredam puncak inflow, sehingga terjadi pengurangan outflow melewati spillway.
Dalam beberapa kasus spillway berpintu atau bangunan outlet memungkinkan operator untuk menurunkan muka air waduk sebelum terjadinya banjir, sehingga tersedia kapasitas tampungan tambahan untuk menampung banjir (misalnya: Dam Sutami dan Wonogiri). Peramalan dan pemantauan banjir yang andal adalah perlu untuk mendapatkan keuntungan penuh dari tampungan banjir yang tersedia, baik di bawah atau di atas elevasi muka air waduk pada keadaan untuk beroperasi penuh.

Sketsa Waduk Pengendali Banjir
IV.2.5. Waduk Retensi
Waduk retensi digunakan untuk menampung dan menahan sebagian atau semua air banjir dihulu wilayah yang rawan banjir, tampungan bersifat sementara dan berpengaruh mengurangi laju aliran dan tinggi muka air banjir dibagian hilir daerah pengaliran sungai. Seperti waduk-waduk yang lain, tingkat pengurangan banjir tergantung pada karakteristik hidrograf banjir, tersedianya volume tampungan, dan dinamika tiap bangunan yang berkaitan dengan waduk pengendali banjir serta bangunan outlet. Bendung urugan ketiggian rendah atau bendung pengelak kadang-kadang dibangun melintang alur air untuk membelokan aliran ke waduk retensi.

Sketsa Waduk Retensi
Spillway dan fasilitas outlet yang memadai disediakan untuk melindungi bendungan dari overtoping dan untuk pengendalian debit dari waduk, dalam beberapa kasus air dibelokan ke tanah pertanian yang lebih rendah dibelakang tanggul, outflow bisa dikontrol dengan banguanan berpintu yang digabung dengan tanggul. Waduk retensi sering sangat sesuai untuk aliran banjir bandang (banjir besar yang datang secara tiba-tiba), umumnya memerlukan lahan yang relatif luas berdekatan dengan sungai dan harus mempunyai volume tampungan yang memadai untuk menampung puncak banjir yang masuk.
Lokasi yang cocok untuk waduk retensi biasanya di dataran rendah, termasuk rawa-rawa dan daerah pertanian.
IV.2.6. Sistem Drainase Pembuang
Sistem drainase ini berfungsi untuk memindahkan air dari daerah rawan banjir akibat drainase alam yang jelek atau gangguan manusia. Drainase sistem grafitasi bisa terdiri dari alur terbuka atau pipa terpendam yang outletnya ke alur air alam. Sebagai tambahan pompa diperlukan jika tinggi muka air dalam alur penerima air terlalu tinggi atau terpengaruh oleh fluktuasi yang disebabkan oleh banjir atau air Pasang.
Bangunan outlet dari sistem darainase pembuang ini bisa terdidi dari bangunan outlet dengan sistem gravitasi atau pompa.

Sketsa Sistem Drainase Pembuang
IV.2.7. Sistem Polder
Sistem polder adalah suatu sistem dalam pembuangan air banjir disuatu daerah yang tidak dapat mengalirkan secara grafitasi ke alur sungai atau langsung keiaut karena pengaruh pasang. Dengan adanya tanggul dikiri dan kanan sungai maka daerah rendah sepanjang sungai tidak dapat mengalirkan airnya secara grafitasi kesungai tersebut, dengan demikian daerah-daerah ini akan merupakan daerah tertutup yang disebut dengan istilah Polder. Drainase didalam daerah polder ini harus dilakukan dengan menampung didalam waduk dan selanjutnya pembuangnya dilakukan dengan pemompaan atau menunggu surutnya muka air sungai / laut.

Skema Sistem Polder
V. STUDI BANJIR JAKARTA
1. Karakteristik Banjir Sungai Ciliwung (Banjir Kiriman)
Hasil studi dari Dr. Ir. Tunggul Sutan Haji (Desertasi S3 tahun 2005) mengenai perubahan tata guna lahan di Sub DAS Ciliwung hulu dengan titik outlet bendung Katulampa (Ciawi) menunjukan bahwa perubahan debit banjir puncak (Qp) sangat dipengaruhi oleh hutan sisa; dari luas hutan 80 % berkurang menjadi 60 %, debit banjir meningkat 15 %. Akan tetapi jika luas hutan sisa dari 60% ke 40 %, debit banjir puncak meningkat dengan sensitif 50 %.
Hasil studi tersebut mengindikasikan bahwa pengelolaan hutan di Sub DAS Ciliwung hulu (Bopunjur) perlu dipertahankan pada nilai optimal ± 60 %.
Tahun 2000 luas hutan masih ± 64 %, namun prediksi tahun 2010 dengan laju permukiman seperti sekarang, hutan di Bopunjur tinggal 45,6 %, yang dapat menyebabkan debit banjir kiriman ke Jakarta sebesar ± 1000 m3 / det untuk hujan 100 mm. Dengan adanya kejadian hujan tanggal 4, 5, 6 Pebruari 2007 yang mencapai ± 230 mm (periode ulang 20 – 25 tahun), maka banjir kiriman dari Sub DAS Ciliwung hulu mencapai 2300 m3/det (ini setara dengan kondisi banjir tahun 1996)
Banjir besar tanggal 4 Pebruari 2007 yang mengenangi 70% wilayah Jakarta disebabkan hujan merata seluruh DAS dari 13 Sungai dan sekitarnya (Sungai Cisadane, Cibeet / Kali Bekasi) dengan total luas DAS ± 750 km2 atau 5 kali sub DAS Ciliwung Hulu (± 150 km2), sehingga debit mencapai ± 11.500 km3/det .
2. Banjir Lokal
Hasil studi Ir. Arfin, MT (alumni S2 Magister PSDA ITB Tahun 2002) menyebutkan debit banjir rencana 1 tahun sampai dengan 100 tahun adalah :

Hanya sungai Ciliwung yang mempunyai bentuk DAS memanjang ± 127 km, sedangkan sungai lainnya kurang dari 60 km. Jika hujan merata seluruh DAS maka justru menjadi penyebab utama banjir di Jakarta, seperti peristiwa banjir tanggal 04 Pebruari 2007 yang lalu. Karena luas DAS 12 sungai-sungai panjang sedang (< 60 km) yang mempunyai luas ± 750 km2 , yang menyumbang debit banjir lokal jakarta ± 9.200 km3/det 3.
3. Efek Amblasan Tanah (Land Subsidence) dan Kenaikan Muka Air Laut (Sea Water Level Rising).
Studi dari Dr. Ir. Bambang Priyambodo (Desertasi S3, Tahun 2005) tentang dalam, lama dan luas genangan banjir Jakarta dipengaruhi faktor internal dan ekternal, dimana faktor internal mempunyai pengaruh 80 – 90 %.
Pengaruh internal (lokal) adalah kondisi fisik Jakarta berikut prasarana dan sarana drainase.
• Muka tanah jakarta mengalami subsidence akibat turunya muka air tanah. Data yang dicatat pada BM monitoring di jalan Tongkol Jakarta (Kantor Monitoring Air Tanah Jakarta, Direktorat Geologi Tata Lingkungan Dep. ESDM) sudah menunjukan angka penurunan tanah paling tidak 100 cm (BM dipasang tahun 1975). Subsidence tanah Jakarta menambah dalam genangan air.
• Drainabilitas rendah karena energi gravitasi kurang dapat mematus genangan air dari kawasan Jakarta ke laut (Teluk Jakarta). Kemiringan energi atau gradien hidraulik hanya berkisar 5 10-4, sehingga aliran lamban dan mengenang.
• Pasang air laut yang semi diurnal menyebabkan aliran tidak terjadi setiap saat, sehingga air terbendung (terblok) oleh laut yang pasang paling tidak 2 x 4 jam / hari. Air yang tertahan menjadi genangan tambahan selama 8 jam/hari atau hampir tersumbat 33 % dari seluruh waktu.
• Kenaikan muka air laut (MSL) akibat pemanasan global (efek rumah kaca) rata-rata 0,5 oC / 10 tahun menyebabkan gunung es di kutub mencair. Hasil studi literatur Dr. Ir. Bambang Priyambodo menyimpulkan kenaikan MSL masih relatif kecil, dalam waktu 20 tahun terakhir kenaikan masih dibawah 10 cm, akan tetapi cenderung bertambah. Kenaikan MSL tersebut sekalipun tidak signifikan, tetapi berpengaruh terhadap kelancaran air ke laut, sehingga waktu air keluar semakin berkurang waktunya menyebabkan genangan air di Jakarta lebih lama dan dalam
4. Kapasitas Outlet dan Tanggap Banjir
Adalah Ir. Arfin, MT. (Tesis S2 tahun 2002) Alumni Program Magister PSDA ITB melakukan studi debit banjir sungai-sungai di Jakarta, dalam kaitan pengendalian banjir DKI Jakarta.
Sistem pengaliran sungai di wilayah Jakarta dibagi menjadi 3 sistem yaitu sub sistem barat, sub sistem tengah, sub sistem timur.
1. Sub sistem barat meliputi Sungai Mokervart, Sungai Angke dan Sungai Pasanggrahan yang mengalir ke Cengkareng
2. Sub sistem tengah meliputi Sungai Ciliwung, Sungai Cideng, Sungai Krukut, Sungai Grogol dan Sungai Sekretaris yang mengalir ke Bajir Kanal Barat (BKB)
3. Sub sistem timur meliputi Sungai Cipinang, Sungai Sunter, Sungai Buaran dan Sungai Cakung yang seharusnya mengalir ke Bajir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang dilaksanakan.
Total kapasitas outlets sistem pengedali banjir adalah (Full excecuted)
• Cengkareng Drain : 390 m3/det
• Banjir Kanal Barat : 400 m3/det
• Drainase Grogol : 70 m3/det
• Pluit Polder : 28,6 + 16 m3/detik (tambahan 4 pompa baru)
• Drainase Sunter : 190 m3/det
• Dinase Cakung : 180 m3/det (jika selesai)
• Jumlah : 1.274,6 m/det
• Banjir Kanal Timur : 400 m3/det
• Total Kapasitas : 1.674,6 m3/det
Lebih lanjut saudara Arfin melakukan penelusuran banjir (flood routing) untuk banjir lokal sebagai inflow; outflownya adalah kapasitas outlet / muara dan tampungannya adalah kapasitas waduk-waduk (17 waduk) dan 18 situ dengan total tampungan 2,45 juta m3.
Hasil penelusuran tersebut menunjukan bahwa apapun debit banjir lokal rencana, Q2t = 1282 m3/det sampai Q 100 th = 2239 m3/det dengan kapasitas outlet seperti diatas, Jakarta tetap tergenang air dengan tinggi genangan 0,25 – 1.0 m dan luas genangan 20 – 70 km2 serta lama genangan 10 – 43 jam
Simulasi juga dilakukan untuk KBT dianggap selesai dengan kapasitas 370 m3/det, menghasilkan genangan 20 – 28 cm untuk debit banjir lokal rencana 15 – 20 tahun dengan lama genangan antara 3 – 7 jam.
Sementara itu kapasitas aktual debit alur muara sungai di wilayah jakarta (Kali Angke, Kali Pasangrahan, Kali Krukut, Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Cakung) berkisar 20 – 100 m3/det atau total hanya 370 m3/det, dimana kali Ciliwung mempunyai kapasitas terbesar ± 100 m3/det. Rencananya kapasitas debit sungai-sungai tersebut akan dinaikan menjadi 5 kalinya atau menjadi 1850 m3/det. Kapasitas rencana tersebut akan mampu mengalirkan debit banjir lokal periode ulang 20 – 25 tahun (data PWS Ciliwung – Cisadane 2002)
5. Penelitian Fasilitas Drainase Kawasan Pantai
Hasil penelitian drainase kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Palembang, Pontianak, Medan menunjukan prasarana dan sarana drainase kota-kota tersebut kurang tanggap terhadap banjir air balik (back water) akibat pasang Laut (Dr. Ir. Sri Legowo WD., dan Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, tahun 1992).
Kapasitas drainase kawasan pantai tidak bisa dihitung atau ditetapkan berdasarkan aliran seragam. Efek muka air laut (kecepatan nol), aliran di muara menjadi tidak seragam (non uniform). Penampang muara sungai / saluran drainase bertambah melebar secara lambat laun (gradually) ke arah laut. Perluasan penampang basah dimuara tidak efektif jika dilakukan dengan memperdalam muara, tetapi lebih efektif memperlebar alur.
Cara efektif adalah dengan cara memperlebar muara sungai alami yaitu seperti lidah yang menjulur dari laut ke darat (lidah laut). Hasil penelitian juga menunjukan kapasitas sungai atau saluran drainase harus diperbesar akibat aliran tertahan pasang laut untuk menampung volume air selama waktu pasang.
Besar penambahan penampang sebanding dengan air yang berhenti akibat air pasang, jika waktu pasang efektif terhadap gangguan kecepatan diketahui, maka kapasitas tampungan jaringan didapat dengan integral dari kapasitas debit terhadap waktu pasang efektif atau V =∫Qdt. Kapasitas tampungan sungai / drainase harus tanggap atau mampu menampung air selama pasang laut.
6. Sumur Resapan, Waduk Resapan dan Sabuk Resapan
Upaya untuk mengurangi limpasan langsung (DRO) atau air hujan yang masuk ke sistem pembuangan, telah dilakukan penelitian secara intensif banyak pihak seperti sumur resapan (UGM, Pusair), waduk resapan (Ristek, UI, ITB, MAI), sabuk resapan (KK TSA ITB).
• Sumur Resapan. Sumur Resapan telah teruji dan disosialisasikan ke lapisan masyarakat untuk partisipatif membuat sumur resapan di halaman rumah atau pekarangan. Bahkan untuk Wilayah DKI telah dibuat PERDA yang mewajibkan masyarakat DKI, Kantor Pemerintah, Swasta membuat sumur resapan. Akan tetapi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak merata, realisasi sumur resapan belum sesuai dengan harapan. Sumur resapan ini sebenarnya bisa mengurangi DRO dan meningkatkan cadangan air tanah.
• Waduk resapan. Waduk resapan sejak 2003 secara intensif diteliti bersama Kementrian Ristek, UI, ITB dan Masyarakat Air Indonesia (MAI). Seminar atau Semiloka guna sosialisasi telah dilakukan dan hasilnya telah dibuat model fisik skala lapangan di Kampus UI Depok tahun 2006 dengan biaya Departemen PU. Saat ini dalam masa pemeliharaan. Pembuatan model lapangan ini untuk penelitian lebih lanjut guna melengkapi hasil-hasil penelitian teori dan simulasi. Dasar waduk resapan harus permeable yang bisa berhubungan langsung dengan sistem aquifer air tanah dangkal maupun dalam. Jadi dasar harus digali sedemikian, sehingga ketemu lapisan berpasir, pasir atau berkerikil. Permeabilitas lapisan pasir / kerikil mempunyai nilai tinggi (10-5 – 10-4 m/det), sehingga dapat mempercepat proses infiltrasi atau perkolasi air permukaan ke dalam lapisan tanah. Permeabilitas tanah permukaan (top soil) sebagai media infiltrasi alami umumnya setara dengan tanah lempung yang nilai koefisien permeabilitasnya 10 pangkat-6 sampai 10 pangkat -8 m/det. Dengan demikian, waduk resapan mempunyai kapasitas resapan 10 – 100 kali lebih cepat dari top soil. Waduk resapan dapat dibuat dengan ukuran kecil 1- 5 ha, untuk kawasan permukiman umum dan realestate pengembang, dengan kondisi geologis berpasir. Sumber air bisa air hujan dari sekitar waduk resapan (hinter land) maupun dari sungai/kali dengan saluran pembawa. Waduk resapan berfungsi ganda yaitu mengurangi banjir dan menjaga / konservasi air tanah. Lokasi waduk resapan lebih tepat di bagian tengah DAS. Contoh DAS Ciliwung, lebih tepat di Depok, Cibubur, Parung.
• Sabuk Resapan. Sabuk resapan adalah memanfaatkan tanah miring yang sudah diatur (terasering). Pada bagian tepi teras bagian bawah dibuat galian selebar 2–3 m dalam 0,6 – 1,0 m melingkar mengikuti kontur tanah. Dengan demikian saat hujan limpasan hujan dapat tertampung pada sabuk sepanjang kontur tanah tersebut dan mempunyai waktu untuk meresap kedalam tanah sebanyak-banyaknya. Sabuk resapan ini secara tidak langsung saya temukan di Madura saat mendampingi fieldtrip Mahasiswa Spesialis 1 PSDA 10 tahun yang lalu.
VI. SARANA DAN PRASARANA PENGENDALI BANJIR JAKARTA
1. Sarana dan Prasarana yang Sudah / Sedang dibangun
Secara perencanaan yang dituang dalam Master Plan Pengendalian Banjir Jakarta Tahun 1997 (Revisi Master Plan 1973) dari desain-desain rinci, Jakarta sudah mempunyai sistem pengendalian banjir yang tanggap banjir. Namun demikian semua realisasi fisik operasi dan pemeliharaan berpulang pada kita sendiri yang tidak komit dan konsisten. Perlu kerja keras dan kemauan politik dari pemerintah Pusat, Propinsi, dan Daerah Kabupaten / Kota sekitar Jakarta
Sarana dan prasarana pengendali banjir Jakarta adalah membangun jaringan drainase yaitu
• Cengkareng Drain Kapasitas 390 m3/det
• Drainase Angke kapasitas 150 m3/det
• Drainase Grogol kapasitas 55 m3/det
• Drainase Grogol Bawah kapasitas 70 m3/det
• Banjir kanal melalui pintu Krukut 6 unit pompa kapasitas: 400 m3/det
• Banjir kanal melalui pintu mangarai kapasitas: 290 m3/det
• Instalasi pompa Kali Cideng kapasitas 37,2 m3/det
• Drainase Sunter Barat kapasitas 76 m3/det
• Drainase Sunter kapasitas 190 m3/det
• Drainase Cakung (8 unit pompa) kapasitas 180 m3/det
• Drainase Cakung Lama kapasitas 50 m3/det
• Drainase Marunda kapasitas 55 m3/det
• Pompa Pluit Polder kapasitas 44,6 m3/det
• Banjir Kanal Timur kapasitas 370 m3/det
2. Sejarah Banjir Kanal Barat dan Perkembangannya
Banjir Kanal Barat dibangun antara tahun 1919 – 1920, dilaksanakan atas gagasan Prof. Ir. Van Breen, yang berupa berupa pembuatan kanal dari Manggarai sampai Muara Angke dengan panjang saluran 17,3 km yang mengubah aliran Kali Ciliwung, Kali Cideng, Kali Krukut, agar tidak melalui tengah kota, tetapi mengelilingi Kota Jakarta bagian Barat. Disamping itu sebagai pengatur banjir di bangunan Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet. Banjir Kanal Barat dengan elevasi tinggi muka air maksimum 6,30 m pada bagian hulu dan 0,00 m dari permukaan laut pada bagian muara, lebar 40 meter dengan daya tampung normal 220 m3/detik. Ketika diadakan evaluasi pengendalian banjir pada tahun 1997, diputuskan akan diperlebar dari 40 meter menjadi 68 meter agar dapat menampung banjir dengan daya angkut 570 m3/detik. Ketika terjadi banjir di Jakarta tahun 1996, Banjir Kanal Barat yang memiIiki daya tampung maksimum 370 m3/detik tidak dapat menampung volume banjir yang mencapai 570 m3/det.
Namun demikian, hingga saat ini usaha pelebaran belum terealisasikan mengingat adanya kesulitan terutama dalam pembebasan tanah dan hal ini juga disebabkan daerah-daerah yang terletak di pinggir sepanjang Banjir Kanal Barat terdapat permukiman penduduk.
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
• Banjir jakarta penyebabnya adalah kondisi fisik, prasarana dan sarana yang kurang, hujan / banjir lokal, banjir kiriman, air pasang, MSL rising, subsidence dan perilaku penduduk Jakarta (tinggal di bantaran, sampah, pemeliharaan saluran, kepatuhan dan lain-lain)
• Banjir Jakarta dapat diprediksi frekuensi (kejadian) dan berarnya, banyak hasil studi dan penelitian yang mendukung dan menjelaskan.
• Master Plan dan perencanaan rinci pengendalian banjir Jakarta sudah baik dan tanggap banjir yang terjadi; ada waduk di hulu, waduk, pengelak banjir, pintu air, pompa, polder dll, seperti tertuang pada Master Plan 1997.
• Kelemahan adalah pelaksanaan dan pemeliharaan, yang tidak konsisten dan tidak berkelanjutan (ustainable).
2. Saran
• Realisasi infrastruktur pengendali banjir Jakarta harus sesuai dengan perencanaan master plannya, dan desain rinci yang telah dibuat dan harus konsisten serta berkelanjuran
• Waduk tampungan di hulu Jakarta yang sudah didisain rinci harus segera dibangun
• Perlu dikembangkan dan dibangun waduk-waduk resapan di bagian tengah DAS Ciliwung atau di kawasan hulu DKI.
• Perlu koordinasi semua pihak (stakeholder) dan jika perlu dibentuk Badan Otoritas khusus penanganan banjir dan kekeringan wilayah Jakarta dan sekitarnya •(Jabodetabek / Mega Politan)
LITERATUR
1. Arfin, 2002, ”Studi Debit Banjir Sungai-Sungai di Jakarta, dalam kaitan pengendalian Banjir DKI Jakarta”, Thesis Magister PSDA ITB – PU.
2. Tunggul Sutan Haji, 2005, ”Integrasi model hidrologi Sebar Keruangan dan Sistem Informasi Geografis untuk Prognosa Banjir Daerah Aliran Sungai.” Disertasi Doktor Sipil ITB
3. Bambang Priyambodo, 2005, ”Dinamika Banjir Jakarta yang dipengaruhi Sea Water Level Rising dan Land Subsidence”, Desertasi Doktor Sipil ITB
4. Sri Legowo dan Enri Damanhuri 1992, “Penelitian Sarana dan Prasarana Drainase Kota-Kota Besar di Pantai.” Penelitian ITB.
5. Sri Legowo & Teddy S 2003. “Waduk Resapan sebagai Alternatif Pengendalian Banjir dan Kekeringan”, Penelitian Ristek.
6. Sri Legowo, 2005. “Penelitian Sabuk Resapan sebagai Alternatif Media Lahan Resapan pada Lahan Terasering”, Penelitian KK TSA ITB.
Dr. Ir. Sri Legowo Wignyo Darsono Kelompok Keilmuan Teknik Sumberdaya Air Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan Institut Teknologi Bandung
Sumber: www.ftsl.itb.ac.id/kk/teknik_sumber_daya_air/wp-content/uploads/2007/09/ banjir-dan-kekeringan.pdf

drainase

skip to main | skip to sidebar
Bahan Referensi

Jumat, 07 Mei 2010
DRAINASE
Posted November 7th, 2008 by Allafa89

DRAINASE

Pengertian Dan Kegunaan
Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Berikut beberapa pengertian drainase :
Menurut Dr. Ir. Suripin, M.Eng. (2004;7) drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
Drainase yaitu suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut. (Suhardjono 1948:1)
Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permkaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan dengan adanya saluran drainase ini antara lain :
Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah.
Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir.
Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka sistem drainase yang ada dikenal dengan istilah sistem drainase perkotaan. Berikut definisi drainase perkotaan :
1. Drainase perkotaan yaitu ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan sosial-budaya yang ada di kawasan kota.
(H.A. Halim Hasmar.2002:1)
2. Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi :
a. Permukiman.
b. Kawasan industri dan perdagangan.
c. Kampus dan sekolah.
d. Rumah sakit dan fasilitas umum.
e. Lapangan olahraga.
f. Lapangan parkir.
g. Instalasi militer, listrik, telekomunikasi.
h. Pelabuhan udara.
(H.A. Halim Hasmar.2002:1)
Standar dan Sistem Penyediaan Drainase Kota
Sistem penyediaan jaringan drainase terdiri dari empat macam, yaitu :
1. Sistem Drainase Utama
Sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat kota.
2. Sistem Drainase Lokal
Sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil warga masyarakat kota.
3. Sistem Drainase Terpisah
Sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan terpisah untuk air permukaan atau air limpasan.
4. Sistem Gabungan
Sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan yang sama, baik untuk air genangan atau air limpasan yang telah diolah.
Sasaran penyediaan sistem drainase dan pengendalian banjir adalah :
1. Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder, dan tersier melalui normalisasi maupun rehabilitasi saluran guna menciptakan lingkungan yang aman dan baik terhadap genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal. Dari masing-masing jaringan dapat didefinisikan sebagai berikut :
a. Jaringan Primer : saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai.
b. Jaringan Sekunder : saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton/plesteran semen).
c. Jaringan Tersier : saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
2. Memenuhi kebutuhan dasar (basic need) drainase bagi kawasan hunian dan kota.
3. Menunjang kebutuhan pembangunan (development need) dalam menunjang terciptanya scenario pengembangan kota untuk kawasan andalan dan menunjang sektor unggulan yang berpedoman pada Rancana Umum Tata Ruang Kota.
Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah :
Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharaannya.
Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.
Standardisasi sistem penyediaan drainase untuk penempatan perumahan di pinggiran saluran primer atau sungai yang mengacu pada Provincial Water Reclement (PWR) Bab II pasal 2 tentang “Pemakaian Bebas dari Perairan Umum” (Waterrocilijn), yang berbunyi “Dilarang menempatkan sebuah bangunan apapun, atau memperbaharui seluruhnya atau sebagian dalam jarak diukur dari kaki tangkis sepanjang perairan umum atau bilamana tidak ada tangkis, dari pinggir atas dari tamping (talud) perairan umum kurang dari :
a. 20 meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 1 dari verordening ini.
b. 5 meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 2 dari verordening ini, demikian juga untuk saluran pengaliran dan pembuangan dengan kemampuan (kapasistet) 4 meter kubik/detik atau lebih.
c. 3 meter untuk saluran-saluran pengairan, pengambilan dan pembuangan kemampuan normal 1 s/d 4 meter kubik/detik.
d. 2 meter untuk saluran-saluran pengairan pengambilan dan pembuangan kemampuan normal kurang dari 1 meter kubik/detik.”
Batas Sempadan Sungai Minimum berdasarkan Peraturan Menteri PU RI nomor 63/PRT/1993, yaitu :
Tabel 1
Batas Sempadan Sungai Minimum
Tipe sungai Diluar kawasan Perkotaan Didalam garis sempadan Keterangan
Kriteria Sempadan Kriteria Sempadan
Sungai bertanggul diukur dari kaki tanggul terluar - ¬¬5 m - 3 m Pasal 6
Sungai tak bertanggul diukur dari tepi sungai Sungai besar luas DPS >500 km2 100 m Kedalaman maksimum >20 m 30 m Pasal 7 dan Pasal 8
Kedalaman maks >3 m dan <20 m 15 m
Sungai kecil luas DPS <500 km2 50 m Kedalaman maksimum <3 m 10 m
Danau/waduk - 50 m - 50 m Pasal 10

Sistem Jaringan Drainase
Sistem jaringan drainase perkotan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Sistem Drainase Mayor
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
2. Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mekro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar.
Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro.
Jenis-jenis Drainase
1. Menurut sejarah terbentuknya
a. Drainase alamiah (natural drainage), yaitu sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia.
b. Drainase buatan , yaitu sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat hujan, dan dimensi saluran.
2. Menurut letak saluran
a. Drainase permukaan tanah (Surface Drainage), yaitu saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel flow.
b. Drainase bawah tanah (Sub Surface Drainage), yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman, dan lain-lain.
3. Menurut konstruksi
a. Saluran terbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata.
b. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. Siste ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
4. Menurut fungsi
a. Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja.
b. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi engalirkan beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.
Arahan Dalam Pelaksanaan Penyediaan Sistem Drainase
Arahan dalam pelaksanaan penyediaan sistem drainase adalah :
a. Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
b. Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
c. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
d. Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
e. Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharannya.
f. Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.
Pengklasifikasian Saluran Drainase
Macam saluran untuk pembuangan air, menurut De Chaira dan Koppelmen (1994:74) dapat dibedakan menjadi :
1. Saluran Air Tertutup
a. Drainase Bawah Tanah Tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah yang diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota.
b. Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini mampu menampung air limpasan dengan volume dan kecepatan yang meningkat tanpa menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
2. Saluran Air Terbuka (Chow 1989:17)
Merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas. Pada saluran air terbuka ini jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya, saluran dibedakan menjadi :
a. Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain. Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :
Saluran (canal) : biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan batu/tidak atau beton, semen, kayu maupu aspal.
Talang (flume) : merupakan selokan dari kayu, logam, beton/pasangan batu, biasanya disangga/terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi tekan.
Got miring (chute) : selokan yang curam.
Terjunan (drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka pendek.
Gorong-gorong (culvert) : saluran tertutup (pendek) yang mengalirkan air melewati jalan raya, jalan kereta api, atau timbunan lainnya.
Terowongan Air Terbuka (open-flow tunnel) : selokan tertutup yang cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus bukit/gundukan tanah.
3. Saluran Air Kombinasi, dimana limpasan air terbuka dikumpulkan pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan dari daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.
Pola Jaringan Drainase
Pola jaringan drainase menurut Sidharta Karmawan (1997:1-8) terdiri dari enam macam, antara lain:
1. Siku
Digunakan pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi daripada sungai. Sungai sebagai saluran pembuangan akhir berada di tengah kota.

2. Paralel
Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri.

3. Grid iron
Digunakan untuk daerah dengan sungai yang terletak di pinggir kota, sehingga saluran-saluran cabang dikumpulkan dahulu pada saluran pengumpul.

4. Alamiah
Sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar.

5. Radial
Digunakan untuk daerah berbukit, sehingga pola saluan memencar ke segala arah.

6. Jaring-jaring
Mepunyai saluran-saluran pembuangan yang mengikuti arah jalan raya dan cocok untuk daerah dengan topografi datar.

Pola jaring-jaring terbagi lagi menjadi 4 jenis (Modul Perkuliahan Drainase Perkotaan, Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik UB; 2004) :
1. Pola perpendicular
Adalah pola jaringan penyaluran air buangan yang dapat digunakan untuk sistem terpisah dan tercampur sehingga banyak diperlukan banyak bangunan pengolahan.

2. Pola interceptor dan pola zone
Adalah pola jaringan yang digunkan untuk sistem tercampur.

3. Pola fan
Adalah pola jaringan dengan dua sambungan saluran / cabang yang dapat lebih dari dua saluran menjadi satu menuju ke sautu banguan pengolahan. Biasanya digunakan untuk sistem terpisah.

4. Pola radial
Adalah pola jaringan yang pengalirannya menuju ke segala arah dimulai dari tengah kota sehingga ada kemungkinan diperlukan banyak bangunan pengolahan.

Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya
1. Bangunan-bangunan Sistem Saluran Drainase
Bangunan-bangunan dalam sistem drainase adalah bangunan-bangunan struktur dan bangunan-bangunan non struktur.
Bangunan Struktur
Bangunan struktur adalah bangunan pasangan disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu. Contoh bangunan struktur adalah :
- bangunan rumah pompa
- bangunan tembok penahan tanah
- bangunan terjunan yang cukup tinggi
- jembatan
Bangunan Non struktur
Bangunan non struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa pasangan, tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu yang biasanya berbentuk siap pasang. Contoh bangunan non struktur adala :
- Pasangan (saluran Cecil tertutup, tembok talud saluran, manhole/bak control ususran Cecil, street inlet).
- Tanpa pasangan : saluran tanah dan saluran tanah berlapis rumput.
2. Bangunan Pelengkap Saluran Drainase
Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk melengkapi suatu sisem saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Adapun bangunan-bangunan pelengkap sistem drainase antara lain :
Catch Basin/Watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup dan air mengalir bebas di atas permukaan tanah menuju match basin. Catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada tepat-tempat yang rendah, tempat parkir.
Inlet
Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar, maka dibuat suatu konstruksi khusus inlet. Inlet harus diberi saringan agar sampah tidak asuk ke dalam saluran tertutup.
Headwall
Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi
Shipon
Shipon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai. Shipon dibangun bawah dari penampang sungai, karena tertanam di dalam tanah maka pada waktu pembuangannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan ataupun kerusakan konstruksi. Sebaiknya dalam merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan menggunakan shipon, dan sebaiknya saluran yang debitnya lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan saluran drainasenya yang dibuat saluran terbuka atau gorong-gorong.
Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perubaan dimensi, perubahan bentuk selokan pada setiap jarak 10-25 m. Lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis, cukup, asal dapat dimasuki oleh orang dewasa. Biasanya lubang manhole berdiameter 60cm dengan tutup dari besi tulang.
Gorong-gorong
Bangunan terjun
Bangunan got miring

Bentuk Saluran
Tabel 2
Bentuk dan fungsi saluran tertutup (sewerage)
No Bentuk Saluran Fungsi
1

Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan maupun limbah air bekas (air limbah) rumah tangga atau keduanya.
Konstruksi sistem saluran ini cocok dipakai untuk pertokoan yang sangat padat dan lahan yang tersedia telah terbatas.
2
Berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan limbah air bekas dimana fluktuasi debitnya besar.
Bentuk yang panjang mengecil ini berfungsi untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup untu dapat menghanyutkan endapan padat dan tinja walaupun debitnya kecil.
3
Berfungsi untuk mengalirkan air hujan dalam jumlah besar dimana bagian atasnya terdapat bangunan. Walaupun daya alirannya tidak sebaik yang berbentu bulat telur, namun pelaksanaannya relative lebih mudah.

Tabel 3
Bentuk-bentuk umum saluran terbuka dan fungsinya
No Bentuk Saluran Fungsi
1
Trapesium

Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar.
Sifat alirannya terus menerus dengan fluktuas kecil.
Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang masih cukup tersedia lahan .

2 Kombinasi trapesium dan segi empat

Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar dan kecil.
Sifat alirannya berfluktuasi besar dan terus menerus tapi debit minimumnya measih cukup besar.
3 Kombinasi trapezium dengan setengah lingkaran

Fungsinya sama dengan bentuk (2), sifat alirannya terus menerus dan berfluktuasi besar dengan debit minimum keil. Fungsi bentuk setengah lingkaran ini adalah untuk menampung dan mengalirkan debit minimum tersebut.
4 Segi empat
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil.
5
Kombinasi segi empat dengan setengah lingkaran

Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi jalur saluran yang tidak mempunyai lahan yang cukup/terbatas. Fungsinya sama dengan bentuk (2&3)
6
Setengah lingkaran

Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil. Bentuk saluran ini umum digunakan untuk saluran-saluran ruah penduduk dan pada sisi jalan perumahan padat.
Kriteria/Standar Teknis Yang Digunakan
Kriteria yang digunakan sebagai acuan agar suatu kawasan memenuhi syarat terhadap keparahan genangan/banjir ditunjukkan pada tabel di bawah ini :
Tabel
Periode Ulang Saluran Drainase
No. Jenis kawasan Saluran primer Saluran sekunder Saluran tersier
1. Permukiman
• Kota sedang
• Kota kecil
5-10 tahun
10-20 tahun
2-5 tahun
2-5 tahun
2-5 tahun
2-5 tahun
2. Industri 2-5 tahun 2-5 tahun 2-5 tahun
3. Perumahan 5-20 tahun 2-5 tahun 2-5 tahun
Sumber : Strategi Pengembangan Kota
Kriteria penilaian tingkat genangan
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya genangan air di suatu lokasi antara lain:
1. Dimensi saluran yang tidak sesuai.
2. Perubahan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan debit banjir di suatu daerah aliran sistem drainase.
3. Elevasi saluran tidak memadai.
4. Lokasi merupakan daerah cekungan.
5. Lokasi merupakan tempat retensi air yang diubah fungsinya misalnya menjadi permukiman. Ketika berfungsi sebagai tempat retensi (parkir alir) dan belum dihuni adanya genangan tidak menjadi masalah. Problem timbul ketika daerah tersebut dihuni.
6. Tanggul kurang tinggi.
7. Kapasitas tampungan kurang besar.
8. Dimensi gorong-gorong terlalu kecil sehingga aliran balik.
9. Adanya penyempitan saluran.
10. Tersumbat saluran oleh endapan, sedimentasi atau timbunan sampah.
Perencanaan sistem drainase
1. Landasan Perencanaan
Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai parasarana kota yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan sumberdaya air, yang ada prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya banyak meresap dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran, antara lain membuat : bagunan resapan buatan, kolam tandon, penataan landscape dan sempadan.
2. Tahapan Perencanaan
Tahap perencanaan drainase perkotaan meliputi :
a. Tahapan dilakukan melalui pembuatan rencana induk, studi kelayakan dan perencanaan detail dengan penjelasan :
• Studi kelayakan dapat dibuat sebagai kelanjutan dari pembuatan rencana induk.
• Perencanaan detail perlu dibuat sebelum pekerjaan konstruksi drainase dilaksanakan.
b. Drainase perkotaan di kota raya dan kota besar perlu direncanakan secara menyeluruh melalui tahapan rencana induk.
c. Drainase perkotaan di kota sedang dan kota kecil dapat direncanakan melalui tahapan rencana kerangka sebagai pengganti rencana induk.
2. Data dan Persyaratan
Sistem drainase perkotaan data dan persyaratan untuk perencanaannya sebagai berikut :
a. Data primer merupakan data dasar yang dibutuhkan dalam perencanaan yang diperoleh baik dari lapangan maupun dari pustaka, mencakup :
• Data permasalahan dan data kuantitatif pada setiap lokasi genangan atau banjir yang meliputi luas, lama, kedalaman rata-rata dan frekuensi genangan.
• Data keadaan fungsi, sistem, geometri dan dimensi saluran
1. Data daerah pengaliran sungai atau saluran meliputi topografi, hidrologi, morfologi sungai, sifat tanah, tata guna tanah dan sebagainya. Data prasarana dan fasilitas kota yang telah ada dan yang direncanakan.
b. Data sekunder merupakan data tambahan yang digunakan dalam perencanaan drainase perkotaan yang sifatnya menunjang dan melengkapi data primer, terdiri atas :
• Rencana Pengembangan Kota
• Geoteknik
• Pembiayaan
• Kependudukan
• Institusi/kelembagaan
• Sosial ekonomi
• Peran serta masyarakat
• Keadaan kesehatan lingkungan permukiman
Masalah dalam Sistem Drainase
• Terjadi Endapan
• Terdapat timbunan Sampah
• Tumbuhnya tanaman liar
• Penyumbatan, kerusakan, penyalah-gunaan saluran dan bangunan
• Peningkatan debit akibat perubahan tata guna lahan

Jumat, 07 Januari 2011

make better for CV

How to Write a Professional CV that Wins Interviews

Jobsite finds out how to write a professional CV that wins you an interview.

You’ve found the ideal job vacancy. Now you need the ‘how to’ guide to write your professional CV. Most people are aware of the standard professional CV build: employment history, qualifications, contact details – but which key ingredients impress employers and win a place on their interview shortlist?

“Before you start to write your professional CV, write down your ten greatest achievements,” says Peter Appleby, Managing Director of Appleby Associates. “This should help you get in the right mindset, which is a marketing mindset. Your achievements demonstrate your proven abilities and what you have to offer. You’re a product being sold to a company, and the goal of your professional CV is to communicate what you can do for them. By considering your achievements first, you won’t fall into the trap of describing your skills without offering evidence to substantiate them.”

Many jobseekers know the basics of how to write a CV, but they don’t build a professional CV that’s a real killer. Linking key skills and abilities with real-life achievements when you write your CV, such as awards or work successes, is a sure-fire way to impress, according to the employers we spoke to. “It’s important that everything you say about yourself on your CV is supported by concrete evidence,” says Harry Freedman, Chief Executive of Career Energy. “So when you describe your key skills and abilities, make sure you back up these claims. Your professional CV is the only thing potential employers will know about you before they meet you in person, so it has to be convincing and sell you strongly.” And how not to write a CV? One of the things employers tell us they hate the most is CV jargon, which loosely means describing yourself as ‘a highly dedicated worker, with excellent attention to detail’ without giving any real life examples of how you’ve already demonstrated these abilities. Always make sure you back up your claims with hard evidence.

Tailor your professional CV to fit your employer. You should never send an ‘identikit’ version to multiple employers by email. Recruiters really object to being spammed by cut and paste CVs. Instead, find out as much as you can about what your recruiters want from your professional CV beforehand. Employers can be very subjective in their preferences, even if they don’t realise it. For example, Noel Marshall of recruitment agency Finance Professionals, categorically states that a personal summary including hobbies and interests gives recruiters a flavour of your personality. Whilst headhunter Andrew Baber of Planning for People believes unequivocally that personal summaries are ‘white noise’ which no-one ever reads.

Almost every employer we spoke to emphasised the need to keep a professional CV as short as possible: no more than two pages long, with plenty of white space and a good font size. A ‘stuffed’ looking CV was rated as very unappealing by employers and a warning sign that the potential employee can’t prioritise. Your goal is to communicate clearly and quickly that you’re right for the job, and this means keeping text to a minimum. “Your professional CV is a document that must be inviting to read,” says Freedman, “which means making it very easy on the eye. There should be lots of white space and you should only write what’s really necessary.” Most employment vacancies are oversubscribed, so you won’t be thanked for adding to a recruiter’s workload by sending pages and pages of CV material for them to wade through.

Essential items are clear, accurate contact details (including your email address) at the top of each page of your professional CV, details of previous employment and your qualifications. According to ‘Why You? CV Messages to Win Jobs’ author, John Lees, who carried out detailed surveys of employers, for each of your previous jobs you should write a brief overview of your position, and then a separate paragraph listing the key skills demonstrated during your employment.

Lees also notes that the majority of recruiters prefer employment histories starting with the most recent first and appearing before a candidate’s qualifications. According to Lees, only a third of employers were interested in GCSE and A Level grades, and professional CVs that begin with school qualifications, or other irrelevant qualifications, were cited as very unappealing.

Good presentation is very important. “You should use plain, white A4 paper and a standard font such as Times New Roman or Arial,” says Appleby. “Absolutely no, shall we say, ‘artistic’ fonts.” Also proof read, double-check and triple-check for errors. Before you dismiss this as an obvious point you would be amazed how many ‘professional’ CVs employers receive with typos and spelling mistakes. According to a nationwide survey of recruitment professionals carried out by the Recruitment & Employment Confederation, 47% said that out of all the professional CVs they received, over half (50%) contained grammatical errors, with the worst offenders in the 21-25 year-old age group. For a recruiter with a mountain of professional CVs to work through, even one little error is a welcome reason to file an application in the pile marked ‘dustbin’.

Stand out from the crowd. If your research indicates your recruiter may favour a creative approach, don’t be afraid to be different. With three hundred black and white two-page CVs to get through, a cleverly creative approach can brighten an employer’s day. Examples which have made it through the door include a standard, professional CV coupled with a doll of the potential employee marketed as a super-hero with their employable qualities written on the box. Whilst one creative applicant seeking work with an events company put together an ‘invitation’ to employ her, complete with party poppers and streamers.

Perhaps most importantly, get a second opinion. “It’s a good idea to get a professional to look over your CV once it’s finished,” says Nick Rous, a career coach for Learn Direct. “Career coaches at Learn Direct can check your CV for free and make sure it’s correctly structured and includes the right amount of detail. A professional CV is not about cutting corners, get advice and take the time to do it properly.”